Pemdes Jamus Gelar Sedekah Bumi Apitan untuk Perkuat Tradisi dan Gotong Royong

  • May 29, 2024
  • Suharto

Desa Jamus kembali menggelar acara tahunan Sedekah Bumi Apitan bertema “Dengan Tradisi, Pondasi Membangun Negeri”. Puncak acara ini dimulai malam hari dengan kirab yang melibatkan anak-anak membawa obor api dan bapak-bapak mengenakan pakaian khas kalijaga bercorak garis-garis hitam coklat. Mereka membawa nasi tumpeng atau ambengan.

Dalam acara ini, gunungan hasil bumi yang terdiri dari buah-buahan, sayuran, dan produk hasil panen lainnya diarak bersama dari rumah kepala desa menuju balai desa Jamus. Kepala Desa Jamus, Muhammad Rifa’i, menyampaikan bahwa rangkaian gelar budaya ini dimulai dari pagi harinya pengambilan air dari sumur tertua di desa, termasuk Sumur Masjid Jami’ Ismail Godo dan empat sumur lainnya dari masing-masing dusun di desa Jamus.

“Setelah itu, air dari lima sumur tersebut kami campur menjadi satu, lalu dibacakan Al-Qur’an 30 juz dan ziarah ke makam tertua di desa, yaitu makam KH Ismail dan Mbah Mangun Taruno. Kami berharap melalui wasilah beliau, desa Jamus menjadi makmur, aman, dan diberkahi,” ujar Rifa’i, Minggu (26/5) malam.

Acara dilanjutkan dengan kirab tumpeng dan gunungan yang dibawa ke gedung serbaguna desa Jamus untuk bacaan istighosah bersama. Air dari lima sumur tadi juga dibacakan mujahadah sebelum akhirnya penyiraman dan makanannya dikonsumsi bersama oleh masyarakat setempat. Setelah makan bersama, dilakukan penyiraman tanah persawahan dan irigasi dengan air tersebut sebagai simbol penjagaan dan keberkahan bagi tanah dan masyarakat desa Jamus.

Penyiraman air ini memiliki makna bahwa tanah harus dijaga dengan air, begitu pula manusia yang bergantung pada tanah untuk hidup dan bertahan. Tradisi ini menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan masyarakat sebagai fondasi ekonomi dan kesejahteraan desa serta negara.

Acara ini dihadiri oleh seluruh warga desa yang membawa ambengan sebagai bentuk swadaya dan kebersamaan. “Dengan tradisi semacam ini, kebersamaan dan gotong-royong masyarakat bisa terjalin erat. Jangan sampai nilai-nilai individualisme menghilangkan tradisi ini,” tambah Rifa’i.

Diketahui, rute kirab dimulai dari rumah kepala desa di Jalan Mijen RT 5 RW 2, dimeriahkan oleh group drum band dari MTs Al-Azhar desa Jamus dan tim hadroh desa Jamus. Tradisi ini memperkuat keguyuban dan kebersamaan warga desa dalam membangun negeri.